mencari
Senin, 28 Maret 2022
Sejarah Mengkiang Sanggau
Sejarah singkat Berdirinya Kerajaan Sanggau
Kerajaan Sanggau merupakan salah satu situs sejarah yang berharga bagi Kalbar. Istana kerajaan berada di jantung kota Sanggau, persisnya di daerah Muara Kantuk, Kelurahan Tanjung Sekayam.
Cikal bakal berdirinya kerajaan Surya Negara sebetulnya bukan di Muara Kantuk. Pusat kerajaan Surya Negara awalnya terletak di Desa Mengkiang, Kecamatan Sanggau Kapuas. Para raja yang berkuasa menjalankan roda pemerintahnya dari dalam istana bernama Keraton Rumah Besar.
Saat berpusat di Desa Mengkiang, kerajaan Surya Negara di kenal dengan nama Kerajaan Paku Negara. Para raja yang memerintah pun umumnya mendapat gelar Pangeran Paku Negara. Gelar tersebut selalu diselipkan dalam nama para raja sebagai pertanda kebangsawanannya.
Berdasarkan penuturan keturunan Kerajaan Paku Negara, Ade Ibrahim bin Ade Husein, sejarah berdirinya kerajaan Paku Negara dimulai saat salah seorang pemuda bernama Babai Cingak datang Desa Mengkiang, sekitar tahun 1400 Masehi. Babai Cingak berasal dari daerah Sabok (Perbatasan Kecamatan Balai Karangan-Sarawak Malaysia Timur).
“Setelah menetap di Desa Mengkiang, Babai Cingak diangkat menjadi Temenggung. Ia kemudian kawin dengan seorang gadis bernama Putri Daranante. Daranante adalah anak pertama dari lima bersaudara, yakni Dara Juanti (Sintang), Dara Hitam (Landak), Dara Putih atau Dara Nandung (Sambas), serta Dara Junjung Buih (Ketapang),” cerita pria yang akrab disapa Pak Ngah Aim ini kepada Equator saat menyambangi kediamannya beberapa waktu lalu.
Dari perkawinannya dengan Daranante, Babai Cingak dikaruniai seorang anak perempuan bernama Dara Mas Ratena. Ia adalah gadis yang berparas manis dibandingkan gadis lain yang ada di sana. Dara Mas Ratena dibesarkan dengan adat istiadat agama Hindu, seperti yang dianut kedua orang tuanya.
“Saat dewasa, Dara Mas Ratena menikah dengan seorang pemuda bernama Abdurrahman. Ia merupakan warga Banten pemeluk agama Islam yang berkelana ke Desa Mengkiang sekitar tahun 1485 Masehi,” kata Pak Ngah Aim.
Menurut pria yang berusia 76 tahun ini, Abdurrahman adalah alumnus Pesantren Nurul Kamal Kerajaan Banten. Ia datang ke Mengkiang untuk menyebarkan agama Islam.
“Sejak kedatangan Abdurrahman ini, banyak warga Mengkiang yang memeluk Islam. Bahkan istrinya sendiri (Dara Mas Ratena, red) merupakan orang Mengkiang yang pertama memeluk Islam,” jelasnya.
Untuk kepentingan menyiarkan Islam, Abdurrahman kemudian mendirikan rumah yang sangat besar. Rumah tersebut sering difungsikan sebagai tempat berkumpul dan menyebarkan agama Islam.
“Seiring perjalanan waktu, Abdurrahman kemudian dinobatkan menjadi raja pertama di Kerajaan Paku Negara, Desa Mengkiang. Selanjutnya, rumah besar yang Ia bangun juga dijadikan istana dengan sebutan Keraton Rumah Besar,” ujarnya.
Dari pernikahannya dengan Dara Mas Ratena, lanjut Pak Ngah Aim, Abdurrahman dikarunia satu orang anak perempuan bernama Dayang Puasa. Dayang puasa selanjutnya kawin dengan Abang Awaluddin, warga Nanga Mau, Kabupaten Kapuas Hulu.
Dari perjalanan Penelusuran sejarah yang saya lakukan, saya pribadi diajak berkunjung ke makam sultan Mengkiang dan Kerabat yang sampai sekarang masih terawat dengan baik melalu pendanaan dari keraton Surya Negara dan dari kerajaan Brunai Darussalam,Karena keterkaitan antara dua kerajaan ini sangatlah erat hubungan nya,
Yang sampai saat ini saya masih melakukan pencarian bukti bukti obyektif sejarah secara berkala ke daerah mengkiang yang sekarang 99% berdomisili Melayu. Masih banyak yang belum kita ketahui tentang perjalanan sejarah dan keterkaitan antara dua kerajaan ini karena sulitnya akses ke kampung mengkiang dan keterbatasan pengetahuan penduduk yang hanya mampu bercerita dari turun temurun tanpa mampu menunjukan bukti bukti kukuh tentang kekerabatan antara dua kerajaan ini.
Dari perjalanan yang saya tempuh untuk mencari bukti bukti tersebut akhirnya saya sebagai salah satu keturunan langsung dari Gusti Muhamad Saleh yang merupakan saudara kandung dari Gusti Ismail dan Gusti Ali Akbar, Beliau adalah cicit dari Gusti Muhamad Taher Surya Negara dan cucu dari H.Gusti Achmad Putra Negara dan merupakan anak dari H.Gusti Muhamad Umar.
Saya menemukan bukti bahwa Kerajaan Brunai Darussalam daerah kekuasaan nya sampai ke daerah Kembayan yang ditandai dengan patok di Riam Pomi sebagai batas daerah Kekuasaan Kerajaan Brunai Darussalam pada masa itu, bukti tertulis itu ada lembaran Copy Serah terima yang sekarang saya Pegang dan asli nya ada di Keraton Surya Negara Sanggau.
Saat Berkunjung Ke Makam Raja Mengkiang dan Kerabat
Bersama seorang Penduduk setempat
Jumat, 24 Juni 2016
Sabtu, 03 Oktober 2015
fatwa pujangga
fatwa pujangga versi aaz http://www.4shared.com/mp3/Dha3tgJnce/fatwa_pujangga_versi_Aaz-1.html
<a href="http://www.4shared.com/mp3/Dha3tgJnce/fatwa_pujangga_versi_Aaz-1.html" target=_blank>fatwa pujangga versi Aaz-1.mp3</a>
[URL=http://www.4shared.com/mp3/Dha3tgJnce/fatwa_pujangga_versi_Aaz-1.html]fatwa pujangga versi Aaz-1.mp3[/URL]
<a href="http://www.4shared.com/mp3/Dha3tgJnce/fatwa_pujangga_versi_Aaz-1.html" target=_blank>fatwa pujangga versi Aaz-1.mp3</a>
[URL=http://www.4shared.com/mp3/Dha3tgJnce/fatwa_pujangga_versi_Aaz-1.html]fatwa pujangga versi Aaz-1.mp3[/URL]
Sabtu, 26 September 2015
Penerapan Metode Kooperatif Model Group Investigation (Group Invesigation) Sebagai Alternatif Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VI
Duhai UKHTI, maafkan jika untuk saat ini aq blm bs percayakan hati
untukmu,,krn aq takut kehilangan cinta_Nya krn DIA akan cemburu jika
wktQ quhabiskan tuk memikirkanmu drpd mengingat_Nya,,,apalagi aq yg blm
halal untukmu dn bs jd tdk akan halal jika trnyata aq bknlh pasangan
tulang rusukmu yg tertulis di lauhul mahfudz_Nya,.
Namun UKHTY,,jika nanti aq tlh resmi mnjd ma'mummu,,,insyaallah akan qu berikan seluruh jiwa&raga serta cintaQ utuh untukmu,,kan Qhabiskan sepanjang sisa hidupQ tuk berbakti pd_Mu,,kan Qsemai hari2 yg qt lalui dgn ketulusan cinta krn berharap ridho_Nya agar hari2mu terasa indah dn kau merasa nyaman saat mndampingiQ,,,untuk saat ini tak perlulah bnyk janji cukuplah wkt yg kan mnjd bukti bhwA INSYA ALLAH IMAM TERBAIK UNTUKMU DUNIA DAN AKHIRAT dan kau akan jadi bidadariku di dunia dan akhirat,
yang mampu membuat cemburu bidadari surga.
Namun UKHTY,,jika nanti aq tlh resmi mnjd ma'mummu,,,insyaallah akan qu berikan seluruh jiwa&raga serta cintaQ utuh untukmu,,kan Qhabiskan sepanjang sisa hidupQ tuk berbakti pd_Mu,,kan Qsemai hari2 yg qt lalui dgn ketulusan cinta krn berharap ridho_Nya agar hari2mu terasa indah dn kau merasa nyaman saat mndampingiQ,,,untuk saat ini tak perlulah bnyk janji cukuplah wkt yg kan mnjd bukti bhwA INSYA ALLAH IMAM TERBAIK UNTUKMU DUNIA DAN AKHIRAT dan kau akan jadi bidadariku di dunia dan akhirat,
yang mampu membuat cemburu bidadari surga.
Senin, 17 Februari 2014
sejarah singkat kerajaan sanggau
Kerajaan Sanggau merupakan salah satu situs sejarah
yang berharga bagi Kalbar. Istana kerajaan berada di jantung kota Sanggau,
persisnya di daerah Muara Kantuk, Kelurahan Tanjung Sekayam.
Cikal bakal berdirinya kerajaan Surya Negara
sebetulnya bukan di Muara Kantuk. Pusat kerajaan Surya Negara awalnya terletak
di Desa Mengkiang, Kecamatan Sanggau Kapuas. Para raja yang berkuasa
menjalankan roda pemerintahnya dari dalam istana bernama Keraton Rumah Besar.
Saat berpusat di Desa Mengkiang, kerajaan Surya Negara
di kenal dengan nama Kerajaan Paku Negara. Para raja yang memerintah pun
umumnya mendapat gelar Pangeran Paku Negara. Gelar tersebut selalu diselipkan
dalam nama para raja sebagai pertanda kebangsawanannya.
Berdasarkan penuturan keturunan Kerajaan Paku Negara,
Ade Ibrahim bin Ade Husein, sejarah berdirinya kerajaan Paku Negara dimulai
saat salah seorang pemuda bernama Babai Cingak datang Desa Mengkiang, sekitar
tahun 1400 Masehi. Babai Cingak berasal dari daerah Sabok (Perbatasan Kecamatan
Balai Karangan-Sarawak Malaysia Timur).
“Setelah menetap di Desa Mengkiang, Babai Cingak
diangkat menjadi Temenggung. Ia kemudian kawin dengan seorang gadis bernama
Putri Daranante. Daranante adalah anak pertama dari lima bersaudara, yakni Dara
Juanti (Sintang), Dara Hitam (Landak), Dara Putih atau Dara Nandung (Sambas),
serta Dara Junjung Buih (Ketapang),” cerita pria yang akrab disapa Pak Ngah Aim
ini kepada Equator saat menyambangi kediamannya beberapa waktu lalu.
Dari perkawinannya dengan Daranante, Babai Cingak
dikaruniai seorang anak perempuan bernama Dara Mas Ratena. Ia adalah gadis yang
berparas manis dibandingkan gadis lain yang ada di sana. Dara Mas Ratena
dibesarkan dengan adat istiadat agama Hindu, seperti yang dianut kedua orang
tuanya.
“Saat dewasa, Dara Mas Ratena menikah dengan seorang
pemuda bernama Abdurrahman. Ia merupakan warga Banten pemeluk agama Islam yang
berkelana ke Desa Mengkiang sekitar tahun 1485 Masehi,” kata Pak Ngah Aim.
Menurut pria yang berusia 76 tahun ini, Abdurrahman
adalah alumnus Pesantren Nurul Kamal Kerajaan Banten. Ia datang ke Mengkiang
untuk menyebarkan agama Islam.
“Sejak
kedatangan Abdurrahman ini, banyak warga Mengkiang yang memeluk Islam. Bahkan
istrinya sendiri (Dara Mas Ratena, red) merupakan orang Mengkiang yang pertama
memeluk Islam,” jelasnya.
Untuk kepentingan menyiarkan Islam, Abdurrahman
kemudian mendirikan rumah yang sangat besar. Rumah tersebut sering difungsikan
sebagai tempat berkumpul dan menyebarkan agama Islam.
“Seiring
perjalanan waktu, Abdurrahman kemudian dinobatkan menjadi raja pertama di
Kerajaan Paku Negara, Desa Mengkiang. Selanjutnya, rumah besar yang Ia bangun
juga dijadikan istana dengan sebutan Keraton Rumah Besar,” ujarnya.
Dari pernikahannya dengan Dara Mas Ratena, lanjut Pak
Ngah Aim, Abdurrahman dikarunia satu orang anak perempuan bernama Dayang Puasa.
Dayang puasa selanjutnya kawin dengan Abang Awaluddin, warga Nanga Mau,
Kabupaten Kapuas Hulu.
Dari perjalanan Penelusuran sejarah yang saya lakukan,
saya pribadi diajak berkunjung ke makam sultan Mengkiang dan Kerabat yang sampai
sekarang masih terawat dengan baik melalu pendanaan dari keraton Surya Negara
dan dari kerajaan Brunai Darusalam,Karena keterkaitan antara dua kerajaan ini
sangatlah erat hubungan nya,
Yang sampai saat ini saya masih melakukan pencarian
bukti bukti obyektif sejarah secara
berkala ke daerah mengkiang yang sekarang 99% berdomisili Melayu. Masih banyak
yang belum kita ketahui tentang perjalanan sejarah dan keterkaitan antara dua
kerajaan ini karena sulitnya akses ke kampung mengkiang dan keterbatasan
pengetahuan penduduk yang hanya mampu bercerita dari turun temurun tanpa mampu
menunjukan bukti bukti kukuh tentang kekerabatan anatara dua kerajaan ini.
Dari perjalanan yang saya tempuh untuk mencari bukti
bukti tersebut akhirnya saya sebagai salah satu keturunan langsung dari Gusti
Muhamad Saleh yang merupakan saudara kandung dari Gusti Ismail dan Gusti Ali
Akbar, Beliau adalah cicit dari Gusti Muhamad Taher Surya Negara dan cucu dari
H.Gusti Achmad Putra Negara dan merupakan anak dari H.Gusti Muhamad Umar.
Saya
menemukan bukti bahwa Kerajaan Brunai Darusalam daerah kekuasaanya sampai
kedaerah Kembayan yang ditandai dengan patok di Riam Pomi sebagai batas adaerah
Kekuasaan Kerajaan Brunai Darusalam pada masa itu, bukti tertulis itu ada
lembaran Copy Serah terima yang sekarang saya Pegang dan asli nya ada di
Keraton Surya Negara Sanggau.
|
||||||||||
|
|
|||||||||
Langganan:
Postingan (Atom)