Kerajaan Sanggau merupakan salah satu situs sejarah
yang berharga bagi Kalbar. Istana kerajaan berada di jantung kota Sanggau,
persisnya di daerah Muara Kantuk, Kelurahan Tanjung Sekayam.
Cikal bakal berdirinya kerajaan Surya Negara
sebetulnya bukan di Muara Kantuk. Pusat kerajaan Surya Negara awalnya terletak
di Desa Mengkiang, Kecamatan Sanggau Kapuas. Para raja yang berkuasa
menjalankan roda pemerintahnya dari dalam istana bernama Keraton Rumah Besar.
Saat berpusat di Desa Mengkiang, kerajaan Surya Negara
di kenal dengan nama Kerajaan Paku Negara. Para raja yang memerintah pun
umumnya mendapat gelar Pangeran Paku Negara. Gelar tersebut selalu diselipkan
dalam nama para raja sebagai pertanda kebangsawanannya.
Berdasarkan penuturan keturunan Kerajaan Paku Negara,
Ade Ibrahim bin Ade Husein, sejarah berdirinya kerajaan Paku Negara dimulai
saat salah seorang pemuda bernama Babai Cingak datang Desa Mengkiang, sekitar
tahun 1400 Masehi. Babai Cingak berasal dari daerah Sabok (Perbatasan Kecamatan
Balai Karangan-Sarawak Malaysia Timur).
“Setelah menetap di Desa Mengkiang, Babai Cingak
diangkat menjadi Temenggung. Ia kemudian kawin dengan seorang gadis bernama
Putri Daranante. Daranante adalah anak pertama dari lima bersaudara, yakni Dara
Juanti (Sintang), Dara Hitam (Landak), Dara Putih atau Dara Nandung (Sambas),
serta Dara Junjung Buih (Ketapang),” cerita pria yang akrab disapa Pak Ngah Aim
ini kepada Equator saat menyambangi kediamannya beberapa waktu lalu.
Dari perkawinannya dengan Daranante, Babai Cingak
dikaruniai seorang anak perempuan bernama Dara Mas Ratena. Ia adalah gadis yang
berparas manis dibandingkan gadis lain yang ada di sana. Dara Mas Ratena
dibesarkan dengan adat istiadat agama Hindu, seperti yang dianut kedua orang
tuanya.
“Saat dewasa, Dara Mas Ratena menikah dengan seorang
pemuda bernama Abdurrahman. Ia merupakan warga Banten pemeluk agama Islam yang
berkelana ke Desa Mengkiang sekitar tahun 1485 Masehi,” kata Pak Ngah Aim.
Menurut pria yang berusia 76 tahun ini, Abdurrahman
adalah alumnus Pesantren Nurul Kamal Kerajaan Banten. Ia datang ke Mengkiang
untuk menyebarkan agama Islam.
“Sejak
kedatangan Abdurrahman ini, banyak warga Mengkiang yang memeluk Islam. Bahkan
istrinya sendiri (Dara Mas Ratena, red) merupakan orang Mengkiang yang pertama
memeluk Islam,” jelasnya.
Untuk kepentingan menyiarkan Islam, Abdurrahman
kemudian mendirikan rumah yang sangat besar. Rumah tersebut sering difungsikan
sebagai tempat berkumpul dan menyebarkan agama Islam.
“Seiring
perjalanan waktu, Abdurrahman kemudian dinobatkan menjadi raja pertama di
Kerajaan Paku Negara, Desa Mengkiang. Selanjutnya, rumah besar yang Ia bangun
juga dijadikan istana dengan sebutan Keraton Rumah Besar,” ujarnya.
Dari pernikahannya dengan Dara Mas Ratena, lanjut Pak
Ngah Aim, Abdurrahman dikarunia satu orang anak perempuan bernama Dayang Puasa.
Dayang puasa selanjutnya kawin dengan Abang Awaluddin, warga Nanga Mau,
Kabupaten Kapuas Hulu.
Dari perjalanan Penelusuran sejarah yang saya lakukan,
saya pribadi diajak berkunjung ke makam sultan Mengkiang dan Kerabat yang sampai
sekarang masih terawat dengan baik melalu pendanaan dari keraton Surya Negara
dan dari kerajaan Brunai Darusalam,Karena keterkaitan antara dua kerajaan ini
sangatlah erat hubungan nya,
Yang sampai saat ini saya masih melakukan pencarian
bukti bukti obyektif sejarah secara
berkala ke daerah mengkiang yang sekarang 99% berdomisili Melayu. Masih banyak
yang belum kita ketahui tentang perjalanan sejarah dan keterkaitan antara dua
kerajaan ini karena sulitnya akses ke kampung mengkiang dan keterbatasan
pengetahuan penduduk yang hanya mampu bercerita dari turun temurun tanpa mampu
menunjukan bukti bukti kukuh tentang kekerabatan anatara dua kerajaan ini.
Dari perjalanan yang saya tempuh untuk mencari bukti
bukti tersebut akhirnya saya sebagai salah satu keturunan langsung dari Gusti
Muhamad Saleh yang merupakan saudara kandung dari Gusti Ismail dan Gusti Ali
Akbar, Beliau adalah cicit dari Gusti Muhamad Taher Surya Negara dan cucu dari
H.Gusti Achmad Putra Negara dan merupakan anak dari H.Gusti Muhamad Umar.
Saya
menemukan bukti bahwa Kerajaan Brunai Darusalam daerah kekuasaanya sampai
kedaerah Kembayan yang ditandai dengan patok di Riam Pomi sebagai batas adaerah
Kekuasaan Kerajaan Brunai Darusalam pada masa itu, bukti tertulis itu ada
lembaran Copy Serah terima yang sekarang saya Pegang dan asli nya ada di
Keraton Surya Negara Sanggau.
|
||||||||||
|
|
|||||||||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar